15/10/2025
📰 SEMUA BERAWAL DARI SINI — QOLAM SURYA PELANGI
Asal Mula Qolam Ba’Gong Bunda Ratu & Ba’Gong Sendang Widodari
By. Hengky Sendyanto
Narasumber : Ustadz Aziz Sumarno
Kamis, 16 Oktober 2025
Yayasan Banyu Biru Food Estate - Segala sesuatu memiliki titik mula. Dalam kebijaksanaan Nusantara, titik mula itu disebut Ba’, sumber gerak kehidupan yang menjadi pondasi peradaban. Di sinilah semua berawal — dari Qolam Surya Pelangi, dari bentuk huruf Ba’ yang melambangkan sumber kehidupan, dan dari Ba’Gong Bunda Ratu serta Ba’Gong Sendang Widodari, tempat pancaran teknologi kehidupan alami berpadu dengan kearifan spiritual.
Qolam berbentuk huruf Ba’ bukan sekadar kolam air biasa. Ia adalah Qolam Berteknologi Tirta Samudra, sebuah sistem kultur jaringan plankton alami yang menjadi sumber kehidupan ikan dan penyedia pupuk organik bagi tanah Nusantara. Sistem ini disebut Ba’Gong Bunda Ratu dan Qolam SundulWawu (Qolam SW), kemudian bermetamorfosis menjadi Qolam Surya Pelangi (Qolam SP) — Sang Pencerah, tempat kehidupan tercipta dan tercerahkan, sebagaimana cahaya yang menembus kegelapan.
Qolam Ba’ bertingkat tiga, dengan Titik Ba’ sebagai sumber utama kehidupan plankton, menjadi pusat proses alamiyah yang suci: dari air, tumbuh kehidupan; dari kehidupan, lahir keberkahan. Seperti disebut dalam Al-Qur’an, “Alladzi ‘allama bil qolam” — Dia yang mengajar manusia dengan Qolam, pena kehidupan. Qolam bukan hanya pena yang menulis, tapi simbol hikmah, akal berulil albab, dan praktik nyata dari kalam Tuhan yang hidup dalam budaya Nusantara.
Huruf Ba’ dalam bentuk Qolam membentuk lingkaran kehidupan. Ketika gong ditabuh, terdengar bunyi “Nuuun…”, sebagaimana ayat pertama Surat Al-Qolam: Nun, wal qolami wama yasthurun — “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis.”
Bunyi Ba’Gong inilah tanda dimulainya sebuah Pagelaran Peradaban Baru — Era Budi Luhur, masa ketika ilmu dan harta, iman dan takwa, lahir dan batin bertemu dalam satu harmoni kehidupan.
“Gong Ditabuh, Ayam Jantan dari Timur, Si Jago Merah Wis Kluruuuk…!!!”
Seruan ini bukan sekadar simbol lokal, tetapi pertanda kebangkitan kesadaran — saat Sang Jago Merah, Tangan Tuhan, menjamu seluruh makhluk dengan kegembiraan, kehidupan, dan keberkahan.
Dalam Qolam Surya Pelangi, bumi dan matahari menyatu dalam tarian kosmis. Matahari memberi energi kehidupan, bumi bersyukur, dan pelangi muncul sebagai tanda kasih semesta. Merah, kuning, hijau — tiga warna dasar pelangi — adalah simbol Cipta, Rasa, dan Karsa, kekuatan hakiki manusia Nusantara. Inilah harmoni antara Surya dan Bumi, antara langit dan tanah, antara nur dan amal.
Huruf Ba’ bermakna ilmu, Nurullah, keimanan, ma’rifatullah, perkara batin dan kalam suci La ilaha illallah.
Huruf Nun bermakna harta, Nur Muhammad, ketaqwaan, syariatullah, perkara lahir dan kalam suci Muhammadur Rasulullah.
Ba’ dan Nun adalah simbol Iman dan Taqwa, dua tiang penyangga dunia. Ketika keduanya bersatu, terciptalah keseimbangan hidup yang terang benderang dalam nada-nada kehidupan nan indah — Sasongko Jagad, pepadang semesta.
Qolam Surya Pelangi menjadi titik mula peradaban, pangkal dari Gerak Glidig Gugur Gunung — gerak kebersamaan rakyat Nusantara dari hulu ke hilir, berbaris teratur seperti bangunan kokoh. Inilah teknologi spiritual dan ekologis yang sederhana namun agung: kolam berbentuk Ba’ yang hidup oleh plankton, menghidupi ikan, menyuburkan tanah, dan menyalakan kesadaran manusia.
Qolam Surya Pelangi bukan hanya tempat air berkumpul. Ia adalah laku kesadaran, wadah ilmu dan harta, pertemuan Ba’ dan Nun, perwujudan iman dan takwa yang melahirkan mutiara keberkahan bagi bumi pertiwi.
📝 Penutup Redaksi :
Dari kolam sederhana berbentuk huruf Ba’, dari teknologi alami plankton, lahirlah peradaban yang bertumpu pada ilmu, iman, dan kasih sayang. Nusantara pernah membangun peradabannya dari titik ini. Kini, saatnya kita kembali pada sumber: Qolam Surya Pelangi, Sang Pencerah peradaban.