05/05/2026
Buat temanya Mbah To yang s**a sejarah dan misteri silahkan ngumpul di Jejak Kaki
Asal-Usul Nama PekalonganAsal-usul nama Pekalongan masih menjadi perdebatan karena minimnya bukti tertulis yang definitif. Dokumen tertua yang menyebut nama Pekalongan adalah Keputusan Pemerintah Hindia Belanda (Gouvernements Besluit) Nomor 40 tahun 1931, yang mengindikasikan nama tersebut berasal dari kata 'Halong' yang berarti 'dapat banyak'. Simbol kota pada masa itu bahkan mencantumkan 'Pek-Alongan' [1].Versi lain, berdasarkan keputusan DPRD Kota Besar Pekalongan tanggal 29 Januari 1957 dan persetujuan Pepekupeda Teritorium 4 dengan SK Nomor KTPS-PPD/00351/II/1958, menyebutkan bahwa nama Pekalongan berasal dari 'A-Pek-Halong-An' yang diartikan sebagai 'pengangsalan' atau 'pendapatan'.
Selain itu, terdapat p**a interpretasi dari cerita rakyat yang mengaitkan nama Pekalongan dengan kata 'pek' yang berarti 'teratas' dan 'along' atau 'halong' yang juga berarti 'dapat banyak'.
Legenda Joko Bau (Bahureksa) dan Topo NgalongSalah satu legenda paling populer yang terkait dengan asal-usul Pekalongan adalah kisah Joko Bau, atau yang juga dikenal sebagai Bahureksa. Joko Bau adalah putra Kyai Cempaluk, seorang pahlawan dari Kesesi. Konon, Joko Bau ingin mengabdikan diri kepada Kerajaan Mataram. Untuk mencapai tujuannya, ia melakukan pertapaan yang dikenal sebagai 'Topo Ngalong' selama 40 hari. Pertapaan ini dilakukan dengan cara menggantung terbalik seperti kelelawar ('ngalong') di sebuah hutan angker. Keberhasilan Joko Bau dalam membuka hutan tersebut dan pertapaannya inilah yang sering dihubungkan dengan penamaan Pekalongan.
Sejarah Perkembangan Kota Masa Awal dan Pengaruh Kolonial
Pekalongan tumbuh sebagai kota pesisir yang strategis di pantai utara Jawa Tengah. Pada masa VOC (abad ke-17) dan pemerintahan kolonial Hindia Belanda, sistem pemerintahan pribumi tetap dipertahankan, meskipun kebijakan dan prioritas ditentukan oleh Belanda. Penguasa pribumi pada masa itu diberi gelar Regent (Bupati).
Pada abad ke-19, terjadi pembaharuan pemerintahan dengan dikeluarkannya Undang-Undang tahun 1954 yang membagi Jawa menjadi beberapa Gewest (Karesidenan). Pekalongan menjadi bagian dari Gewest Pekalongan, bersama dengan Brebes, Tegal, Pemalang, dan Batang.
Perkembangan Industri BatikPekalongan dikenal sebagai pusat industri batik. Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal, diperkirakan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan, motif batik tertua yang tercatat di Deperindag dibuat pada tahun 1802 [1] [12].Perkembangan signifikan industri batik di Pekalongan terjadi setelah Perang Diponegoro (1825-1830). Banyak keluarga keraton Mataram dan pengikutnya yang mengungsi ke berbagai daerah, termasuk Pekalongan, dan mengembangkan batik di sana. Hal ini menjadikan batik sebagai napas penghidupan masyarakat Pekalongan dan menjadi simbol keuletan serta keluwesan dalam mengadopsi pemikiran baru.
Asal-usul dan sejarah Pekalongan adalah tapestry yang kaya, terjalin dari legenda heroik Joko Bau, etimologi nama yang beragam, serta perkembangan sosio-politik dan ekonomi yang signifikan. Dari kota pesisir yang strategis hingga menjadi 'Kota Batik' yang mendunia, Pekalongan terus menorehkan jejaknya dalam sejarah Indonesia