20/06/2025
"Berapa Ekor Indukan Domba yang Harus Dipelihara Agar Penghasilan Setara UMR Jakarta?"
Di tengah kota Klaten, Jawa Tengah — kota kecil yang kini makin mudah dijangkau berkat jalur tol — berdiri sebuah peternakan inspiratif bernama Tienji Farm, dikelola oleh Pak Eko Utomo. Peternakan ini bukan sekadar tempat memelihara domba, tetapi juga ladang ilmu, tempat berbagi mimpi dan harapan bagi siapa pun yang ingin mandiri secara finansial lewat beternak.
Pak Eko memulai dengan satu pertanyaan mendasar yang sering muncul dari para pemula: "Berapa ekor domba yang dibutuhkan untuk bisa hidup layak, setara UMR?" Dari pertanyaan inilah lahir pendekatan yang serius dan sistematis—bukan hanya coba-coba—yakni melalui model keuangan berbasis pengalaman dan data lapangan.
Menurut Pak Eko, dengan 10 indukan domba dan dikerjakan sendiri, seseorang bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp1 juta per bulan. Ini bukan hitungan asal-asalan. Sistemnya sudah diuji, dari siklus kelahiran domba setiap 8 bulan (tiga kali melahirkan dalam 2 tahun), hingga literasi angka litter size rata-rata 1,5 anak per kelahiran asumsi kematian 0,2 anak. Hasilnya: dari 10 indukan bisa dihasilkan sekitar 39 cempe dalam 24 bulan. Setelah dikurangi biaya minimal (obat, pakan tambahan), keuntungan tetap bisa didapat.
Jika ingin mengejar UMR Jakarta misalnya, cukup pelihara 50 ekor indukan, maka pendapatan bisa tembus Rp5 juta lebih per bulan. Dengan catatan: harus dikelola sendiri, pakan ditanam sendiri, manajemen bibit dan nutrisi diperhatikan.
Pak Eko juga membagikan resep sukses dalam memilih bibit, menyiapkan indukan dengan bobot ideal (minimal 30–35 kg), dan perlunya flushing (pemberian pakan tinggi nutrisi saat bunting tua). Bahkan ia menyarankan, jangan tergiur harga murah di pasar. Banyak indukan dijual murah karena bobotnya kecil, dan jika langsung dikawinkan bisa menyebabkan stunting atau keguguran.
Untuk hasil optimal, Pak Eko merekomendasikan jenis pakan dan tanaman ramban terbaik seperti indigovera dan singkong karet, serta rumput pakcong dan gamal yang terbukti paling produktif dan bernutrisi tinggi. Semua berbasis riset, pengalaman, dan ketekunan.
Lebih jauh, ia menyentuh soal genetik unggul, seperti domba crossing dan full blood, dan memberi panduan bertahap agar peternak pemula tidak terburu-buru mengeluarkan modal besar sebelum cukup pengalaman.
Yang membuat cerita ini menyentuh adalah bahwa semua langkah yang dibagikan Pak Eko lahir dari praktek langsung, kalkulasi detail, dan niat tulus berbagi. Ia bukan hanya peternak, tapi juga dosen dan konsultan bisnis, menjadikan ilmunya menyatu dengan pengalaman nyata.
Lewat Tienji Farm, Pak Eko membuktikan bahwa beternak bukan pekerjaan pinggiran. Ia adalah jalan mandiri menuju ketahanan keluarga dan ketahanan pangan bangsa.
Semangatnya mengalir dalam setiap kata:
“Jangan patah semangat. Selalu berjuang. Ketahanan pangan, ketahanan keluarga, dan ketahanan negara — kita mulai dari kandang sendiri.”
Sumber: Youtube BUKAN DOKTER HEWAN