25/09/2014
Menggarap Peluang Bisnis Penggemukan Sapi
Kunci majunya usaha penggemukan sapi adalah stabilnya pasokan sapi bakalan
Bisnis peternakan sapi mempunyai potensi yang besar dan peluangnya masih terbuka lebar, termasuk untuk bisnis turunan. Terlebih, konsumsi daging sapi di Indonesia masih sangat rendah yaitu kurang dari 2 kg/kapita/tahun.
Dengan permintaan daging sapi yang semakin tinggi dan populasi penduduk semakin meningkat memacu perkembangan bisnis sapi potong terutama penggemukkan (feedlot). Kondisi ini yang mendorong PT Catur Mitra Taruma (Taruma) yang berlokasi di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat untuk bergerak di bisnis ini.
Menurut Komisaris Utama Taruma, Abimanyu Suyoso kondisi ketersediaan bahan baku alami pakan sapi yang cukup mendorong pihaknya untuk berkecimpung di bidang penggemukan sapi potong.“Pelaku penggemukkan sapi modern yang relatif masih sedikit mendorong kami untuk terjun di bisnis ini,” ucap Abimanyu kepada TROBOS Livestock.
Ditambahkan Direktur Utama Taruma, Eri Ifyandri, sebagai perusahaan yang mulanya bergerak di perdagangan sapi ini akhirnya bisnisnya dialihkan ke penggemukkan sapi di 2010. Hal itu ditunjang dengan adanya ketentuan pemerintah yang membatasi berat sapi impor maksimum 350 kg sehingga perdagangan dan impor sapi siap potong tidak dimungkinkan lagi.
Syahban Sinuraya, Komisaris Taruma menimpali, sebagai kelengkapan utama di bisnis penggemukkan sapi potong, pihaknya menyiapkan kandang sendiri lengkap dengan sarana dan prasarana pendukung di lahan seluas 22 ha. Kelengkapan ini merujuk pada Peraturan Pemerintah yang hanya memberikan ijin impor sapi kepada perusahaan penggemukkan sapi (feedloter) yang mempunyai kandang dengan jumlah sesuai kapasitas kandang.
Sedangkan Djoko Suwono yang juga Komisaris Taruma menambahkan pada awalnya, feedlot yang dioperasikan Juni 2011 ini untuk kapasitas 3.000 ekor sapi eks impor. Pada Maret 2012 ditambah kandang dengan kapasitas 1.200 ekor yang khusus untuk sapi lokal.
Indikator Keberhasilan
Perusahaan yang didirikan oleh para pensiunan pegawai BUMN ini membuat berbagai indikator untuk menilai keberhasilan usahanya. Untuk menilai perkembangan usaha feedlot–nyadengan mengukur dari jumlah sapi, nilai margin pakan (ADG (Average Daily Gain/pertambahan bobot badan harian) – pakan), kualitas sapi potong, dan selisih harga jual beli.”Untuk mencapai target, jumlah stok sapi harus lebih dari 3.000 ekor, nilai margin pakan lebih dari Rp 26.000/hari/ekor, ADG minimum untuk sapi impor BX lebih dari 1,5 kg/hari/ekor sedang untuk sapi lokal lebih dari 1,3 kg/hari/ekor,” jelas Eri.
Eri melanjutkan, saat ini, ada sekitar 4.000 ekor yang mengisi kandang Taruma. Sapi lokal 1.200 ekor dan sapi eks impor 2.800 ekor. “Untuk penggemukan sapi umumnya dilakukan selama 4 bulan. Namun target bobot badan sudah bisa dicapai dalam waktu 100 hari. Sedangkan penjualan dilakukan ketika harga sapi sedang bagus,” urainya.
Djoko menambahkan, keuntungan penggemukan sapi potong juga dihitung dari harga jual selisih harga beli. “Selisih untuk sapi impor tidak boleh kurang atau sama dengan Rp 10.000/kg sedang sapi lokal tidak boleh kurang atau sama dengan Rp 500/kg. Kualitas sapi siap potong juga ditentukan dari presentase karkas, meat bone ratio, dan kualitas daging,” tandasnya.
Meski fokus ke penggemukan dan perdagangan sapi, Taruma berniat menjual pakan.Pasalnya, dari kapasitasproduksi pabrik pakan yang mencapai 150 ton per haribaru dimanfaatkan 40 ton per hari untuk populasi 4.000 ekor sapi sehingga sisanya masih banyak. Adapun komposisi pakan yang diberikan adalah 80% konsentrat dan 20% hijauan.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi September 2013