Pecinta Kucing Meow

Pecinta Kucing Meow Wadah Edukasi, Informasi, dan Aspirasi tentang Kucing. Mari berbagi dan belajar bersama demi mewujud

Yakin ga mau ciiing... 😸
22/10/2021

Yakin ga mau ciiing... 😸

ANIMAL RESCUERApa itu animal rescuer ?Animal Rescuer adalah sebuah istilah atau sebutan bagi setiap individu perorangan ...
17/12/2020

ANIMAL RESCUER

Apa itu animal rescuer ?

Animal Rescuer adalah sebuah istilah atau sebutan bagi setiap individu perorangan maupun mewakili sebuah organisasi yang terjun langsung melakukan upaya dan usaha penyelamatan pada hewan-hewan yang membutuhkan pertolongan.

Belakangan ini mulai banyak bermunculan rescuer-rescuer baru yang mulai mau ikut ambil bagian dalam upaya penyelamatan hewan terlantar, tentu saja mereka pantas kita beri apresiasi terlebih mengingat bahwa sampai saat ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah terkait berbagai permasalahan di dunia satwa terlantar yang membutuhkan pertolongan. Meski begitu ada beberapa hal yang harusnya diperhatikan agar setiap hewan yang sudah diselamatkan nasibnya benar-benar terselamatkan.

Jika kita berbicara mengenai rescuer yang bergerak dalam upaya penyelamatan satwa domestik seperti (Anjing & kucing) maka hal terutama yang harus dipahami adalah akar permasalahannya. Seperti kita ketahui bersama bahwa akar permasalahan dari setiap kasus penelantaran dan penyalahgunaan hewan adalah akibat dari pop**asi satwa domestik yang terus berkembang biak tak terkendali. Maka dari itu agar perlahan kita dapat memperbaiki persoalan dari akar permasalahannya harusnya setelah upaya penyelamatan satwa berhasil dilakukan maka usaha selanjutnya harus mengacu hanya pada 2 hal penting yaitu segera mensteril dan mempromosikan program adopsi pada hewan tersebut. Banyak usaha yang dapat dilakukan antara lain dengan membuat iklan/promosi ajakan dan himbauan untuk mengadopsi, didalamnya pun kita dapat menyisipkan nilai-nilai edukasi pada masyarakat luas agar mereka mulai mengerti bahwa kegiatan ini adalah upaya untuk menekan berkembangnya pop**asi hewan terlantar dll.

Menggunakan konsep shelter/penampungan hewan pun tidak masalah asalkan shelter tersebut benar-benar memenuhi standar kesehatan dan kelayakan. Standar kesehatan tidak hanya dititik beratkan pada kesehatan fisik hewannya saja tetapi juga kesehatan psikologi/mental hewan tersebut. Maka dari itu sebuah shelter harusnya dikelola langsung oleh rescuer dan relawan, lebih baik jika lebih sedikit menggunakan tenaga kennel boy/tenaga perawat hewan, atau minimal pengelola shelter harus lebih memiliki banyak waktunya untuk berada di shelter miliknya agar setiap hewan benar-benar tertangani dengan baik, hal ini menyangkut kebersihan kandang, kebersihan hewan, kebersihan lingkungan dan kesejahteraan semua hewan didalamnya. Sebuah shelter juga harus memiliki kelayakan, dapat diterima baik oleh masyarakat lingkungan sekitar, akan lebih baik jika sebuah shelter memiliki pekarangan terbuka terbatas yang cukup luas, memiliki ruang hijau, dan memiliki fasilitas untuk menangani hewan yang sakit. Hal ini diperlukan agar hewan didalamnya tidak campur aduk, dan agar proses perawatan juga rehabilitasi hewan dapat berjalan dengan kondusif. Dan yang juga penting adalah sebuah shelter juga tetap harus memprioritaskan usaha sterilisasi dan promosi adopsi pada hewan-hewannya. Hal ini penting agar kegiatan penampungan hewan tidak berubah mengarah pada kegiatan penyalahgunaan hewan. Selain itu juga agar hewan-hewan terlantar yang masih berada diluar mendapat kesempatan untuk diselamatkan.

Merekam dan mempublikasikan setiap kegiatan dan proses penyelamatan baik dalam bentuk foto maupun video harusnya bukanlah hal yang menjadi prioritas utama, sebab hal ini hanya akan menimbulkan persepsi pencitraan diri. Boleh saja dilakukan selagi terdapat nilai-nilai edukasi didalamnya dan bukan sebagai usaha untuk mengeksploitasi hewan sebagai alat untuk semata-mata meraih perhatian publik, seperti kita ketahui bersama bahwa beberapa oknum pelaku animal abuse awalnya adalah seorang rescuer yang akhirnya mengalami pergeseran visi misi, mereka memanfaatkan luka dan rasa sakit hewan untuk mencari keuntungan pribadi, bahkan beberapa diantaranya sengaja menciptakan kondisi seperti itu demi memuluskan aksi kejahatan terselubung yang memang mereka rencanakan.

Jadi intinya adalah apapun usaha dan upaya yang dilakukan oleh aktivis dan relawan penyelamat hewan adalah hal yang patut kita apresiasi bersama, hanya saja semua hal itu tetap harus mengacu pada kejujuran, batas kemampuan dan tepat sasaran. Semuanya demi satu cita-cita bersama, agar seluruh hewan dapat hidup sejahtera.

Semoga bermanfaat, salam damai selalu.

Penulis :
Alexander Bimo Jati Nugrahanto
📸 From Google

Feline Infectious Peritonitis (FIP)Feline infectious peritonitis (disingkat FIP) atau radang peritoneum infeksius pada k...
02/12/2020

Feline Infectious Peritonitis (FIP)

Feline infectious peritonitis (disingkat FIP) atau radang peritoneum infeksius pada kucing adalah penyakit menular pada kucing akibat infeksi virus Feline Coronavirus (FCoV). Manifestasi klinis yang paling sering ditemukan adalah radang pada peritoneum, selaput tipis yang melapisi rongga perut. Penyakit ini bersifat mematikan, dapat menyerang semua jenis kucing pada semua umur, dan kasusnya dilaporkan di seluruh dunia.

Penyakit FIP disebabkan oleh virus dari famili Coronaviridae, kelompok virus RNA rantai tunggal beramplop yang mampu menginfeksi berbagai spesies makhluk hidup. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh Coronavirus di antaranya sindrom pernapasan akut berat (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) pada manusia, bronkitis infeksius pada unggas (avian infectious bronchitis), gastroenteritis menular pada babi (swine transmissible gastroenteritis), dan radang peritoneum infeksius pada kucing (FIP).

Feline Coronavirus terbagi menjadi dua jenis, yaitu Feline Enteric Coronavirus (FECV) yang kurang patogen dan Feline Infectious Peritonitis Virus (FIPV) yang sifatnya lebih patogen. Virus FECV menginfeksi sel epitelial usus yang menyebabkan diare atau bahkan tidak memunculkan tanda klinis sama sekali. Dalam tubuh kucing, virus FECV dapat mengalami mutasi genetik menjadi FIPV yang menyebabkan penyakit FIP yang mematikan. Virus FIPV sendiri bereplikasi dalam sel darah putih seperti monosit dan makrofag. Berdasarkan sifat genetiknya, virus FIPV terbagi menjadi FIPV tipe I dan FIPV tipe II.

➡Penularan

Feses atau kotoran yang dikeluarkan oleh kucing terinfeksi merupakan sumber penularan utama. Kotak feses (litter box) menjadi sumber infeksi pada kucing-kucing yang dipelihara secara berkelompok, misalnya pada peternakan kucing (breeding catteries). Kucing sehat kemungkinan besar akan terinfeksi secara oral setelah mengalami kontak dengan partikel virus.

Anak kucing umumnya mulai terinfeksi pada usia 5-6 minggu, ketika antibodi maternal yang diturunkan dari induknya telah menurun. Setelah virus ditelan oleh kucing, misalnya akibat menjilat (grooming) kaki yang mengandung virus akibat menyentuh kotak feses, virus akan masuk dan bereplikasi di dalam sel epitelial pada vili usus halus. Kucing terinfeksi kemudian mulai mengeluarkan virus (shedding) pada fesesnya dalam waktu satu pekan. Hal ini dapat berlangsung hingga beberapa bulan.

➡Bentuk penyakit

Perut buncit yang berisi cairan pada FIP tipe basah.
Penyakit ini bermanifestasi dalam dua bentuk, yaitu tipe basah (wet atau effusive) dan tipe kering (dry atau noneffusive). Tipe basah lebih sering ditemui dan sifatnya lebih ganas dari tipe kering. Bentuk penyakit yang muncul sangat tergantung pada reaksi kekebalan tubuh kucing. Jika kekebalan tubuh bereaksi cepat, biasanya yang muncul adalah tipe kering. Sebaliknya, jika kekebalan tubuh bereaksi lambat, maka tipe basah yang muncul.

Pada saat respon kekebalan tubuh cukup kuat, tanda klinis penyakit bisa saja tidak muncul tetapi kucing dapat menjadi pembawa dan dapat menularkan virus selama beberapa tahun hingga kekebalan tubuhnya berkurang sedikit demi sedikit. Seiring dengan berkurangnya kekebalan, penyakit akan semakin berkembang hingga timbul tanda klinis dan akhirnya menyebabkan kematian.

➡Tanda klinis
Kucing yang terpapar FCoV biasanya tidak menunjukkan tanda klinis yang jelas. Sebagian kucing menunjukkan gangguan pernapasan ringan, seperti bersin, mata berair, dan lendir hidung yang berlebihan, sementara kucing lainnya menunjukkan gangguan pencernaan ringan seperti diare. Pada sebagian kecil kucing, FCoV dalam tubuhnya berkembang hingga menyebabkan terjadinya FIP. Perkembangan ini dapat berlangsung dalam hitungan minggu, bulan, atau tahun setelah pertama kali terpapar virus.

Pada kucing yang menderita FIP, tanda klinis dapat muncul secara mendadak dan menjadi semakin berat dalam beberapa pekan, hingga berujung pada kematian. Tanda klinis yang pertama kali muncul sifatnya tidak spesifik, seperti kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, depresi, rambut kasar, anemia, dan demam persisten yang tidak menanggapi terapi antibiotika.

Pada FIP bentuk basah terjadi asites atau akumulasi cairan di rongga perut (pada sebagian kasus hingga rongga dada) hingga menyebabkan pembengkakan (biasanya tanpa rasa sakit) disertai kesulitan bernafas. Pada FIP bentuk kering, cairan yang menumpuk relatif sedikit dan tanda klinis yang muncul tergantung pada organ yang terinfeksi virus. Oleh karena itu, FIP bentuk kering lebih sulit didiagnosis. Sebagian kasus bentuk kering menyebabkan gangguan mata, gangguan saraf (lumpuh, cara berjalan yang tidak stabil, dan kejang-kejang), dan gangguan organ pada rongga perut (hati, ginjal, pankreas, limpa, kelenjar getah bening, dan usus), hingga muntah dan ikterus. Terkadang, tanda klinis FIP bentuk basah juga muncul bersamaan dengan bentuk kering.

➡Pencegahan dan pengobatan
Kucing yang dipelihara secara berkelompok lebih berisiko terkena FIP. Menjaga higiene dan kebersihan merupakan cara pencegahan yang disarankan karena penularan FIP terjadi melalui rute fekal-oral. Pemeliharaan kucing dalam kelompok-kelompok kecil di ruangan yang berbeda, penempatan kotak feses yang jauh dari kotak pakan dan minum, membuang feses dari kotaknya sesering mungkin, serta rutin membersihkan kandang dan peralatan kucing dengan sabun, deterjen, atau disinfektan dapat mengurangi risiko FIP. Kesehatan kucing secara umum dapat dijaga dengan pemberian nutrisi yang cukup dan berkualitas.

Hingga saat ini, baru satu jenis vaksin FIP komersial yang tersedia di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Efektivitas vaksin ini masih diperdebatkan. Vaksin FIP tersebut belum tersedia di Indonesia.

Kucing yang menderita FIP biasanya berujung pada kematian. Terapi yang diberikan hanya bersifat suportif untuk mengurangi tanda klinis yang muncul dan memperpanjang usia kucing, misalnya terapi infus untuk mengatasi dehidrasi, antibiotika untuk infeksi sekunder, pembedahan untuk mengeluarkan cairan dari rongga perut dan dada, serta pemberian antimuntah, antiradang, dan interferon.

Dirangkum dari Wikipedia.org

15 Penyakit Kulit Pada Kucing – Gejala – Cara MengatasiBagi anda yang sedang memelihara kucing pastinya mengenali bebera...
26/11/2020

15 Penyakit Kulit Pada Kucing – Gejala – Cara Mengatasi

Bagi anda yang sedang memelihara kucing pastinya mengenali beberapa jenis penyakit yang sering menyerang kulit para kucing peliharaan. Bahkan jika anda baru berusaha untuk memelihara sejenis kucing yang sangat kamu s**ai, tentunya kamu memang harus mengetahui berbagai jenis penyakit kulit yang biasanya menyerang kucing pemeliharaan anda. Dengan adanya pengetahuan dan mengerti akan jenis – jenis penyakit kulit yang sering di alami para kucing, pastinya anda bisa melakukan pencegahan sekaligus pengobatan jika penyakit tersebut nantinya muncul apalagi jika anda sedang mempelajari cara merawat bayi kucing.

Biasanya para pemilik kucing akan langsung mengatakan bahwa kucing mereka terkena jamur bila menemukan sesuatu yang terjadi pada kulit kucing mereka. Dan tentunya mereka akan mencari tau cara mengatasi jamur pada kucing, dan bahkan ada yang langsung meminta perawatan dan sekaligus suntik sebagai salah satu cara menghilangkan jamur pada kucing. Banyak sekali yang salah kaprah tentang penyakit kulit yang ada pada kucing. Padahal penyakit kulit yang terjadi pada kucing tidak hanya masalah jamur semata, masih banyak jenis penyakit kulit lainnya yang bisa menyerang kucing.

Bila kucing terlihat seringkali menggaruk dan terlihat tidak nyaman sekaligus mengalami perubahan bentuk dari warna sekaligus berupa beberapa tonjolan pada kulitnya maka bisa di pastikan kucing tersebut memiliki masalah kulit. Berikut kami rangkum 15 daftar penyakit kulit kucing yang umum di temukan :

1. Stud Tail

Ini memang kondisi yang lumayan jarang di temukan pada kucing, dimana tanda – tandanya adalah adanya cairan yang berminyak dengan warna coklat berbau pada bagaian atas ekor kucing tersebut di daerah yang mendekati bagian pangkal. Ini adalah masalah kulit yang di sebabkan oleh adanya produksi minyak yang berlebihan pada kelenjar di bagian dekat ekor. Cara mengatasi permasalahan ini adalah dengan mencuci lebih sering bagian yang terjangkit dengan sampo kucing yang mengandung zat tertentu untuk mengurangi produksi minyak berlebih pada kucing tersebut.

2. Ring Worm

Ini adalah penyakit kulit yang berupa jamur yang biasa menyerang hewan peliharaan kucing. terutama para anak kucing yang biasanya masih berumur kurang dari setahun. Ini akan menyebabkan adanya ruam atau lesi yang berbentuk melingkar di bagian kepala kucing, badan dan telinga. Bagian kulit di sekitar daerah yang terkena lesi akan botak dan juga bersisik. Penyakit ringworm ini sangatlah menular dan biasanya akan menyebar ke para hewan peliharaan yang lainnya yang ada di rumah, serta kepada orang – orang sekitar yang berada di dekat dan melakukan kontak dengan kucing yang terinfeksi.

Sedangkan pengobatan pada penyakit ringworm akan tergantung pada level keparahan infeksi tersebut, tetapi mungkin termsuk sampo khusus, obat-obatan oral dan salep. Pencegahan dari penyakit worm kucing:

Lakukanlah proses desinfektan secara rutin pada kandang dan ruangan tempat tinggal kucing dengan cairan pemutih atau bleaching dan berbagai desinfektan yang di khususkan untuk hewan ternak.

Lakukanlah perendaman atau mandikan kucing anda di dalam cairan larutan belerang atau lyme sulfur atau gunakan sampo Sebazole.
Sedangkan untuk cara pengobatan dari penyakitring worm adalah sebagai berikut :

Jangan berikan obat oral pada kucing terinfeksi yang sedang hamil atau untuk kucing yang masih berumur kurang dari 4 bulan.
Gunakan Virgin Coconut Oil atau VCO dan Minyak Tawon untuk membersihkan bagian dari kerak – kerak yang telah terbentuk, setelah melakukan hal tersebut bersihkan dengan salep yang di gunakan untuk anti jamur atau Ketokenazole.
Gunakan kapsul Sporanox atau Ithraconazole secara oral pemakaian satu kapsul yang dipisahkan dalam 5 bagian selama lebih kurang 14 hari, pemakaian sehari sekali untuk kucing berumur 4 bulan atau konsultasikan leboh lanjut dengan dokter hewan langganan.

3. Ketombe atau Kulit Kering

Taukah anda bahwa kulit kucing juga dapat mengering dan terkelupas. Walaupun ini merupakan penyakit kulit yang tidak terlalu serius, tapi tetap saja anda harus tetap berantisipasi dan melakukan pencegahan atau pengobatan jika terinfeksi. Ketombe yang terjadi pada kulit kucing tentunya akan berdampak buruk pada masalah kesehatan, menjadi salah satu tanda gizi buruk dan adanya perawatan yang terbengkalai. Suplemen khusus omega 3 asam lemak dan pemberian sampo khusus dapat mengatasi kulit kering atau ketombe yang terjadi pada kucing anda. Pengobatan atau pencengahan penyakit kulit kering atau ketombe yang terjadi pada kucing tersebut :

Memberikan suplemen tambahan seperti X trabloom wate dan minyak ikan.
Lakukan pemandian rutin kucing dalam kurun waktu sebulan sekali dengan sebazole dan sampo anti jamur.

4. Yeast atau Infeksi Jamur

Ini adalah jenis penyakit kulit atau infeksi yang di sebabkan oleh jamur yang sangat sering atau umum terjadi pada kucing. Telinga merupakan tempat tersering yang terinfeksi jamur, dimana kucing yang terinfeksi akan menimbulkan gejala cairan kuning atau cairan hitam, kucing tersebut akan seringkali menggaruk – garuk telinga dan tampak adanya kemerahan.

Penyakit infeksi jamur ini akan sangat mudah di ketahui dan biasanya hanya membutuhkan pengobatan menggunakan obat anti jamur. Sedangkan untuk tahapan pencegahan, berikut cara – caranya :

Mandikan atau rendamlah kucing anda sebulan sekali ke dalam cairan larutan belerang atau lyme sulfur dan mandikan ia dengan sampo sebazole.
Lakukan penggunaan desinfektan rutin sebulan sekali pada kucing anda.
Jika telah terjadi infeksi, maka berikut cara pengobatannya :

Berikan obat oral dan lakukan pembersihan dengan beberapa jenis minyak essensial.

5. Feline Acne

Penyakit kulit kucing yang di namai feline acne bukanlah penyakit jerawat biasa seperti yang menyerang manusia pada umumnya. Ini adalah keadaan di mana adanya perubahan warna pada bagian bawah rahang kucing yang akan menghitam. Infeksi yang lumayan parah ini biasanya di sebabkan oleh penggunaan sampo yang di lengkapi dengan zat kimia berbahaya atau karena alergi makanan. Disarankan untuk selalu mebersihkan tempat makanan kucing agar peliharaan anda terhindar dari penyakit kulit jenis ini. Gunakan berbagai suplemen kucing yang memiliki kandungan omega 6 atau omega 3 untuk proses penyembuhan. Dan jangan menggunakan sampo kucing yang memiliki kandungan zat berbahaya.

6. Eosinophilic Granuloma

Jika kucing peliharaan anda mengalami sejenis luka pada bagian bibir atau hidungnya, kemungkinan kucing anda mengalami alergi kulit yang bernama granuloma eosinofilik. Walaupun reaksi ini bisa terjadi di bagian tubuh mana saja di kucing anda, namun pada bagian bantalan kaku, paha dan wajah adalah bagian tersering. Sedangkan untuk proses pengobatan di dasarkan dari penyebab terjadinya infeksi.

7. Alergic Dermatitis

Kucing tentu saja bisa mengalami alergi terhadap makanan, gangguan lingkungan dan berbagai jenis produk perawatan. Tanda-tandanya adalah kucing tersebut akan lebih sering menggaruk bagian leher dan bagian kepala, ini adalah umum dari jenis alergi makanan. Gejala lainnya adalah dengan kucing menggaruk telinga atau bagian pangkal ekor dan menjilat bagian kaki.

8. Rambut Rontok

Ada berbagai cara mengatasi bulu kucing rontok, dan ini merupakan salah satu penyakit kulit yang biasa terjadi pada kucing. Dan tentunya anda harus segera berkonsultasi dan memberikan pengobatan sekaligus mencari cara melebatkan bulu kucing. Sedangkan jika terjadi kerontokan abnormal biasanya menjadi tanda-tanda peringatan dari beberapa alergi, kutu, gizi buruk dan beberapa penyakit.

9. Infeksi Bakteri

Ini adalah kelanjutan dari berbagai infeksi kulit lainnya, seperti akar rambut kucing dan jerawat kucing. Infeksi bakteri biasanya akan di obati dengan antibiotik.

10. Scabies

Scabies adalah penyakit kulit kucing yang biasanya di sebabkan oleh infeksi tungau. Biasanya rambut kucing akan rontok dan adanya rasa gatal yang menyerang bagian kepala kucing tersebut.

11. Kutu Kucing

Ada banyak cara menghilangkan kutu kucing, karena kutu adalah masalah kulit pada kucing yang sering terjadi. Tanda-tandanya dalah luka kulit yang berkerak, penipisan rambut terutama rambut di daerah pangkal ekor dan kucing tersebut akan sering menggaruk.

12. Kutu Lice

Ini adalah sejenis parasit yang membuat kulit kucing anda menjadi kering. Kucing yang terkena kutu lice biasanya menjadi gelisah, rambut rontok dan sering menggaruk. Pengobatannya seperti halnya pengobatan tungau, kutu lice akan di obati dengan adanya pengobatan topikal.

13. Kulit Bernanah

Kucing yang biasanya mengalami ini biasanya mengalami luka-luka dan kulit bernanah. Ketika mengalami gangguan ini biasanya akan di sterilkan dengan zat antiseptik.

14. Tumor Kulit

Tumor ini merupakan salah satu jenis penyakit yang biasa terjadi pada kucing dan sangat serius dan cukup parah. Biasanya terdapat tanda seperti benjolan keras atau padat pada kulit kucing. Harus diperhatikan dan konsultasikan ke dokter hewan.

15. Abses

Ada banyak faktor penyebab abses yang terjadi pada kucing. Adanya pembengkakan dan inilah yang dinamakan dengan abses. Jangan melakukan penyentuhan terhadap kulit dan rambutnya ketika terjadi abses.

Demikian penjelasan terkait apa apa saja penyakit kulit pada kucing, semoga dengan adanya artikel ini bisa menambah pengetahuan anda terkait jenis jenis penyakit kulit yang bisa menyerang kucing. Semoga bermanfaat.

*Diambil dari tulisan Cori Calista
Di ArenaHewan.com

Pernah denger tentang Linking Awareness?Apa sih Linking Awareness itu? Dan apa fungsinya?Banyak yang belum tau dan paham...
22/11/2020

Pernah denger tentang Linking Awareness?
Apa sih Linking Awareness itu? Dan apa fungsinya?

Banyak yang belum tau dan paham tentang LA ini, dan banyak juga yang beranggapan bahwa orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan LA ini adalah seorang "Dukun" padahal tidak demikian adanya.

Nah, supaya teman-teman tidak berburuk sangka dan beranggapan yg tidak-tidak, yuukk kita bahas sedikit tentang Linking Awareness ini...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~🌷

Fragment of Life

Linking Awareness: Communicate with Heart
August 30, 2014

Linking Awareness? Apa sih itu?
Banyak orang yang tidak tahu mengenai hal ini, saya termasuk salah satunya. Saya mendengar tentang Linking Awareness (LA) pertama kali dari drh. Nia ketika saya sedang magang di Ujung Kulon bersama teman saya Frizky. Dari beliau, saya mendapat info bahwa drh. Marcell menjadi fasilitator acara ini daaaannn... dengan modal nekat dan agak tidak tahu malu, saya minta ikut.

Well, turns out, it was amazing.

Linking Awareness adalah suatu kegiatan yang digagas oleh Loesje Jacob, seorang praktisi ahli Body Talk dari Kanada untuk belajar berkomunikasi dengan cara non verbal ke hewan, alam sekitar, anak-anak dan manusia dewasa non verbal (tidak bisa berbicara), bahkan komunikasi dengan tubuh kita dan aspek-aspek di dalamnya. :D

Pada prinsipnya, Linking Awareness (LA) dan Body Talk Access For Animal (BTAA) ini mengajarkan kita untuk berkomunikasi dengan hati (heart) dan menyelaraskan pikiran (mind) agar keseimbangan energi dalam tubuh kita, dalam hal ini diwakilkan dengan istilah 'chakra', dapat bekerja seimbang dan dialirkan kepada obyek komunikasi kita. Nantinya obyek komunikasi tersebut juga akan mengalirkan energi kepada kita sehingga terbentuklah suatu koneksi untuk berkomunikasi.

Logikanya, kalian pasti pernah kan berkomunikasi dengan hewan peliharaan kalian baik secara verbal maupun non verbal dan kalian pasti bisa mengerti (walau sedikit) apa perasaan mereka melalui gerakan tubuh, suara, empati, atau apapun itu? Padahal bahasa hewan dan manusia kan berbeda? Atau coba lihat seorang ibu yang bisa mengerti apa kemauan bayinya, padahal kan bayi belum bisa berbicara?
Nah itu lah kira-kira yang namanya berkomunikasi dengan hati. Mungkin di kedokteran hewan, ilmu ini dimasukkan dalam pelajaran "ilmu tilik hewan" atau ilmu yang mempelajari perilaku hewan.

Pada dasarnya, komunikasi itu bisa dilakukan melalui berbagai media, yaitu penglihatan (Clairvoyance), pendengaran (Clairaudience), bau, rasa, dan sentuhan (Clairsentience), serta perasaan atau empati (Clair cognizanse). Dalam kegiatan LA ini, kita akan diajarkan bagaimana mengoptimalkan indera kita yang paling peka untuk berkomunikasi secara non verbal serta bagaimana melatih indera lain yang kurang peka untuk berkomunikasi. Seringkali pikiran kita dibatasi oleh logika ataupun hal-hal lain yang membatasi imajinasi dan daya pikir kita, sehingga pesan yang kita terima tidak tersampaikan dengan baik. Di dalam kegiatan ini, kita juga belajar bagaimana menghilangkan 'filter' yang membatasi ruang otak dalam menerima pesan. Pesan yang kita terima bisa bermacam-macam, bahkan terkadang agak tidak masuk akal, sehingga bagian otak yang bernama Amygdala (iya, si otak kadal ini) pasti akan membantah dengan mengatakan "ah itu tidak mungkin, seharusnya kan begini." Apabila filter telah berhasil kita singkirkan, tentunya informasi yang bisa kita terima dari hewan maupun sentient being lainnya akan lebih banyak dan beragam.

Sesi komunikasi dengan Yeti, sang bayi gajah tanpa Ibu
LA juga merupakan modifikasi Body Talk yang lebih difokuskan untuk berkomunikasi dengan hewan, termasuk dalam hal penyembuhan (healing). Yeap, you hear me right! Logikanya, setiap hewan (bahkan manusia) pasti tahu ketika ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Utamanya hewan liar, pada saat mereka sakit mereka tentunya tidak akan mencari dokter hewan dan berkonsultasi untuk menyembuhkan penyakitnya. Hewan liar hidup dan mengobati dirinya sendiri dengan berbagai unsur tanaman di alam liar, misalnya ketika gajah cacingan mereka akan memakan dedaunan yang (ternyata) terbukti memiliki zat anthelmintik. Dengan LA, kita dapat membantu hewan untuk menyeimbangkan koneksi antara unsur-unsur tubuhnya, seperti koneksi antar sel otak, hidrasi tubuh, bahkan saat berkomunikasi dengan hewan, mereka bisa memberitahu kita bagian tubuh mana yang merasa sakit dan apa yang mereka butuhkan untuk membantu mereka menyembuhkan diri. Tidak hanya itu, bahkan hewan dapat membantu manusia (terutama) pemiliknya untuk menyembuhkan diri.

Hal ini dibuktikan pada saat seekor gajah yang mendatangi Loesje karena ia merasa mahoutnya sedang tidak enak badan. Pada saat sang mahout ditanyai, ia pun mengakui bahwa memang akhir-akhir ini ia tidak merasa fit dan sering mengalami sakit kepala. Akhirnya dengan dibantu Loesje dan sang gajah, diadakanlah sesi untuk membantu menghilangkan ketegangan (tense) yang dialami mahout dan menghilangkan sakit kepalanya.

Oh iya, umumnya sesi seperti ini mengggunakan teknik sederhana yang disebut "tapping" di mana praktisi akan mengetuk pelan (tap) kepala kliennya untuk mengaktivasi kerja otak dan melepas ketegangan tubuh serta pikiran, kemudian praktisi akan mengetuk pelan juga di bagian dada klien, tepatnya di bagian jantung, untuk aktivasi aliran darah dan agar semua proses tersebut diingat oleh hati (heart). Yang saya s**a dari teknik tapping ini adalah motto "waking up the brain, so the heart remember" yang memang dilakukan pada teknik ini. Untuk yang sering lupa, jangan lupa tapping bagian hatimu karena memang untuk mengingat tidak hanya diperlukan kerja otak, melainkan diperlukan p**a sinergisme antara kerja otak dan hati/jantung. :)

Saya mengikuti kelas Linking Awareness ini di Way Kambas, Lampung, pada Februari 2014 lalu. Sebenarnya kegiatan ini dilanjutkan di Tanjung Puting untuk sesi dengan orangutan dan di Malang untuk sesi Body Talk dengan anak-anak panti asuhan dan para korban meletusnya Gunung Semeru. Dari apa yang saya dengar, kedua kegiatan ini tidak kalah menariknya dengan kegiatan di Way Kambas. Bahkan pada saat di Tanjung Puting, Loesje dkk. didatangi oleh sekelompok orangutan, lengkap dengan alpha male yang memimpinnya, hanya untuk menyambut kedatangan mereka. Such an amazing experience! Satu lagi yang saya senang dari kelas ini: learn how to speak up. Di sini, suara saya yang sangat pelan entah mengapa menjadi jelas dan cukup lantang untuk bisa didengar oleh semua orang di padang rumput. Di sini, saya tidak perlu merasa takut dihakimi oleh pendapat-pendapat yang meremehkan saya dan teman saya yang baru belajar. Di sini tidak ada salah atau benar, they welcome us very well. Saya tidak perlu takut atau risih diejek 'dukun' seperti yang dilakukan oleh pacar saya (yang bangke lol) -_-. But well, not everyone understands what we're doing right? That's why I love these guys, this community is a bunch of people free from judging.

Ya mungkin akan ada beberapa orang yang tidak paham yang akan menghakimi kalian, bahkan menuduh kalian dukun yang pakai ilmu sesat untuk mengobati hewan, tapi percaya deh, ini semua masuk ke logika dan ada ilmu sains di dalamnya. Buat saya, peduli amat sama mereka yang meragukan kita. Toh buktinya lebih banyak yang kagum dengan kegiatan ini dan bahkan bertanya-tanya pada saya mengenai Linking Awareness ini. Tidak hanya adik kelas yang secara tidak sengaja juga menyaksikan kegiatan ini di Way Kambas, namun juga teman-teman di kampus hingga beberapa dosen FKH pun mulai tertarik dengan kegiatan ini.

Powered by Blogger

Dikutip dari link berikut, bahasan lebih lengkap bisa langsung klik link 👇
http://myfragmentoflife.blogspot.com/2014/08/linking-awareness-communicate-with-heart.html

KUCING MU CACINGAN? YUUKK CARI TAU APA PENYEBABNYA, CIRI-CIRINYA DAN CARA PENGOBATANNYA.Apa sih penyebab dan ciri kucing...
23/05/2020

KUCING MU CACINGAN?

YUUKK CARI TAU APA PENYEBABNYA, CIRI-CIRINYA DAN CARA PENGOBATANNYA.

Apa sih penyebab dan ciri kucing cacingan?

Penyebab kucing cacingan ada banyak, contoh saja tungau atau kutu kucing. Kemudian dari hal di atas kita harus tahu cara mengobati kucing cacingan, seperti yang dibahas di bawah ini.

Tahukah kamu bahwa ada beberapa jenis cacing dapat menginfeksi kucing. Ada 4 jenis cacing yang dapat membuat kucing cacingan yaitu cacing pita, cacing gelang, cacing hati, dan cacing tambang. Cacing ini menyerang semua kucing, sehingga anak kucing cacingan pun dapat terjadi.

Namun cacing-cacing tersebut bukan hanya menyerang kucing saja namun juga manusia dan hewan peliharaan lainnya.

Jadi selain mengetahui cara mengobati kucing cacingan pada anak kucing, kucing dewasa, atau kucing yang menunjukkan tanda kucing caingan.

Sebaiknya pemilik kucing juga membicarakan tentang program pemeriksaan parasit dan cara mencegah cacingan pada kucing dengan dokter hewan.

Sangat penting untuk mengetahui kapan saatnya kucing kamu harus diobati dari infeksi cacing, begitu juga dengan mengetahui cara mengobatinya.

Penyebab Kucing Cacingan

1. Kutu atau tungau
Karena kucing kamu memakan kutu yang terdapat telur cacing dan telur itu menetas dalam usus.

2. Cacing dan telur cacing
Penyebab kucing cacingan bisa karena telur cacing masuk ke dalam tubuh saat kucing melukai atau menjilati dirinya sendiri.

Bisa juga karena telur cacing pita (cysticercoid) tertelan saat makan daging metah, ikan mentah, atau hewan mati.

Berikut ini jenis-jenis cacing atau spesies cacing pita :

Echinococcus – cacing ini menginfeksi kucing lewat daging mentai atau yang telah busuk.
Ddibothriocephalus latus dan Spirometra mansonoides – kalau yang ini hinggap di ikan air tawar atau mentah ataupun ular yang berasal dari dalam air.

Taenia Taeniaeformis – penularan ke kucing disebabkan karena kucing memakan daging atau makanan yang tidak higienis dan telah dihinggapi cacing ini.
Dipylidium caninum – nah yang ini sering banget ditemuin pada kucing. Cacing ini menginfeksi kucing kita lewat kutu dimana kutu tersebut memiliki larva cacig pita di dalamnya.

3. Infeksi
Induk kucing yang menyusui anak-anaknya kemungkinan menularkan infeksi. Bisa juga saat perawatan.

4. Lingkungan yang tidak bersih
Lingkungan rumah yang tidak higienis tentu bisa menjadi berbagai sarang kuman khususnya cacing.

Kucing terinfeksi cacing pita dari tempat kotoran atau tempat tidur yang jarang dibersihkan. Coba sekarang lihat lingkunganmu?

Ada beberapa gejala kucing cacingan atau ciri kucing cacingan :

1. Bulu tampak kusam

Kamu bisa mengetahui kucing kamu cacingan atau tidak dengan memperhatikan bulunya. Biasanya bulu kucing berkilau.

Tapi jika bulu kucing kamu tampak kusam maka itu bisa jadi adalah pertanda bahwa kucing kamu cacingan karena cacing-cacing menginfeksi kucing sehingga kucing menjadi dehidrasi dan malah menyerap nutris yang buruk.

2. Gusi yang terlihat tidak sehat

Tanda kucing cacingan selanjutnya ialah jika kucing Anda sehat maka gusinya berwarna merah muda seperti gusi manusia.

Namun jika gusi kucing kamu berwarna putih atau oucat, maka bisa jadi kucingmu mengalami infeksi parasit.

Jika memang gusinya pucat, segera bawa ke dokter hewan.

3. Kotoran kucing yang ada cacingnya

Ciri-ciri kucing cacingan bisa kamu lihat dari kotoran kucingnya.

Jika kotoran berwarna gelap maka tandanya kucingmu kehilangan darah di dinding usus yang merupakan sarng cacing tambang.

Jika kucingmu diare maka bisa jadi karena cacing mengganggu pencernaan dan mengambil ruang dalam usus.

Jika kucingmu terkena diare lebih dari 24 jam atau ada darah segar dalam kotoran maka segera bawa kucingmu ke dokter hewan.

4. Kucing muntah disertai cacing

Dalam ciri kucing muntah selanjutnya ialah kamu harus perhatikan muntahan kucing.

Muntah bisa terjadi pada kucing bila mengalami cacingan.

Jika kucing Anda sering muntah dan biasanya terdapat cacing, maka bisa jadi merupakan gejala cacingan atau penyakit lainnya.

Cacing dapat menyebabkan muntah dengan cara menyebabkan iritasi pada lapisan lambung atau menghalangi aliran ke perut. Segera bawa ke dokter.

5. Menurunnya nafsu makan

Ciri-ciri kucing cacingan bisa dilihat dari nafsu makannya. Kandungan cacing yang tinggi pada perut kucing dapat menghilangkan nafsu makan.

Nafsu makan berkurang atau menghilang juga bisa jadi diakibatkan karena sakit perut, radang selaput usus, atau ruangan dalam usus yang direbut oleh cacing-cacing di perut kucing.

6. Perut besar

Kucing yang mengalami cacingan biasanya perutnya akan membesar karena adanya pembengkakan.

Namun gejala yang satu ini bisa terjadi karena adanya berbagai alasan.

Jika terdapat perubahan dalam bentuk tubuh si meong, sebaiknya segera periksakan dia ke dokter hewan.

7. Lesu Letih Lunglai

Kucing atau anak kucing yang terkena cacingan akan merasa lesu dan kekurangan energi karena nutrisinya dicuri oleh caing.

Namun tanda-tanda kelesuan juga bisa menjadi gejala dari penyakit lainnya, bukan cuma cacingan.

Karena kamu yang paling tahu bagaimana perilaku kucingmu yang biasa, maka perhatikan apakah ada perubahan yang membuat kucingmu menjadi lesu.

Jangan lupa segera bawa ke dokter.

Cara Mengobati Kucing Cacingan

1. Mengetahui obat yang tepat

Jika yang menginfeksi kucingmu adalah cacing gelang dan cacing tambang maka obat kucing cacingan yang lazim digunakan adalah pirantel palmoat dan milbemycin oxime.

Obat tersebut digunakan bagi kucing dewasa sedangkan untuk anak kucing diberikan obat cacing oral.

Jika yang menyerang kucingmu adalah cacing pita maka cara mengatasi kucing cacingan dengan memberikan praziquantel dan epsiprantel.

Praziquantel bisa kamu beli dengan bebas di apotik sedangkan epsiprantel harus menggunakan resep dokter.

2. Berikan obat dari resep dokter

Cara mengobati kucing cacingan yang selanjutnya ialah berikan obat yang diresepkan oleh dokter hewan kepada kucing.

Jangan pernah memberikan obat cacing yang dijual bebas tanpa resep dokter.

Sebaiknya konsultasikan dulu kepada dokter obat apa yang cocok untuk kucing Anda, apalagi jika yang terkena cacingan adalah anak kucing.

Obat yang biasanya diberikan untuk kucing kamu biasanya dalam bentuk pil, atau dalam bentuk lainnya misal kapsul, tablet, tablet kunyah, salep, granul, cairan atau losion.

Saat mengetahui obat yang herus diberikan, kmau juga harus tahu frekuensi pemberiannya.

Patuhi cara memberikan obat sesuai dengan resep dokter hewan atau dosis yang tercantum. Berikan obat kucing sampai obatnya habis.

2. Bersiaplah menghadapi efek samping dari obatnya

Karena obat cacing lebih beracun bagi cacing dibandingkan untuk kucingmu.

Maka dari itu kamu harus berkonsultasi ke dokter hewan dan memberikan obat sesuai dengan resep.

Beberapa efek samping yang akan dialami oleh kucingmu antara lain muntah dan diare.

Bicarakan apa saja yang merupakan efek samping dari obat pada dokter hewan.

Namun pastikan kucingmu bereaksi normal setelah meminum obat.

3. Pastikan untuk melakukan pemeriksaan kembali

Dokter hewan pasti akan memintamu untuk membawa lagi kucing kamu dalam beberapa hari ke depan.

Dokter akan memastikan kesembuhannya atau menganjurkan untuk menjalani pengobatan lanjutan.

Sangat penting untuk mengunjungi kembali dokter hewan jika diminta.

Kesimp**annya :

Jika kamu sudah mengetahui ciri-ciri kucing cacingan kamu harus segera mengambil keputusan akan diobati sendiri atau dibawa ke dokter.

Kalau kucingmu sudah terlihat sangat lemas akibat cacing, sebaiknya sih langsung dibawa.

Kucing cacingan memang membuat si kucing terlihat kasian. Semoga kucing cacingan bisa kamu atasi supaya kucingmu bisa sehat lagi.

Salam Meow 😽🐾💙

*Dirangkum dari tulisan Yugi
Seorang Blogger yang cinta kucing. Menjadi pecinta kucing sejak kecil dan pemilik blog kucing No. #1 di Indonesia.

Address

Denpasar

Telephone

+6283117174422

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pecinta Kucing Meow posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Pecinta Kucing Meow:

Share

Category