05/01/2026
KOTA BLITAR - Bukannya fokus pada penangkaran ulat jerman, Galih Prambudi justru tertarik dengan merawat dan mengkomersilkan kumbang ulat jerman. Meski kebutuhannya lebih sedikit jika dibanding ulat jerman, omzetnya masih tembus puluhan juta perbulan.
Sama seperti larva sejenis, ulat jerman banyak dicari untuk pakan binatan peliharaan. Binatang berwana kuning mengkilap ini memiliki nilai ekonomi yang lumayan. Dengan perawatan sederhana, ulat jerman bisa dijual Rp 30 ribu perkilo. Itu setelah dipelihara sekitar 2 bulan.
Karena alasan ini p**a, 2015 lalu galih prambudi mulai mencoba membudidayakan maggot tersebut. Seperti pemula pada umumnya, diawal budidaya galih juga bersemangat. Namun selalu saja ada tantangan dalam perjalanan usaha. Misalnya saja, harga jual yang tidak sesuai ekspektasi atau kendala teknis lain seperti cuaca yang dapat mempengaruhi hasil produksi. “untungnya saya ini mauk kategori orang yang telaten,” katanya lantas terkekeh.
Ketika mulai mahir membudidayakan ulat jerman, pemuda 24 tahun ini juga mulai mencari alternative agar bisa mencukupi kebutuhan produksinya sendiri. Misalnya saja membudidayakan indukan ulat jerman.
Dia tahu sebenarnya bukan hal sulit untuk mendapatkan indukan ulat jerman yang notabene berupa kumbang tersebut. Syaratnya, memang harus mau sedikit ngoyo. Sebab, perlu perlakuan khusus agar maggot ini bisa berubah menjadi kumbang. “ ketika sudah berusia sekitar 5 bulan, ulat jerman itu harus disendirikan dalam wadah khusus agar bisa jadi kumbang,” katanya.
Memang njelimet. Satu wadah hanya bisa diisi satu ulat. Galih pernah melakukan uji coba menempatkan dua maggot dalam wadah khusus untuk proses metamorfisa ini. Hasilnya bukan hanya tidak mendapatkan kumbang, maggot yang dia tempatkan dalam wadah ini mati. Dia juga tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.
baca www.radartulungagung.co.id