03/08/2011
Anak-anak muda ini datang demi cita-cita. Ada yang cita-citanya sutradara film tapi tak gemar nonton film, ada yang kepingin jadi reporter tv dan mulai membuktikannya pada dunia bahwa ia tak asal bicara, ada yang dia sendiri belum tahu maksud dan tujuan hidupnya tapi syukurlah rajin mencari-cari buku di loakan ..
Sayang di sini tak ada ceramah harian soal penyutradaraan dan reportase, tak ada peralatan mentereng, yang jelas terjadwal hanyalah mengunjungi petani bernama Kuncoro di satu dusun di perbatasan Sleman-Kulonprogo. Dan petani muda bertubuh tipis itu menyambut dengan teriakan, “Kamu mau jadi orang berguna atau tidak?!” Kemudian dimulailah pelajaran pertama: mencangkul.
Setelah lebih dari sebulan mereka belum juga merampungkan program apapun sesuai disiplin dan cita-cita mereka. Mboh, urusan mereka sendirilah itu. Yang pasti mereka akhirnya menukar tiga anak anjing yang akan disetor pemiliknya ke penjagal dengan buku tulis dan peralatan sekolah, dan dengan taktis melarikan seekor anjing sakit yang akan disumbangkan ke laboratorium.
Bersama Kuncoro mereka berusaha menstabilkan kondisi ketiga bocah yang merindukan air susu ibu dan memulihkan si ringkih menjadi laki-laki gagah. Bukan proses yang gampang dan cepat, sebab perwujudan kasih-sayang yang instan sama gombalnya dengan si pemilik sebelumnya yang rela berkolusi dengan pemasok daging demi membeli lantai keramik.
Kini satu dari anak anjing itu, Aang namanya, dimiliki keluarga seorang wartawan. Bruno saudaranya tinggal di sebelah rumah si wartawan. Dan si cantik Luna bersama Zorro si kerempeng yang kuat menjadi penjaga ayam, marmut dan ladang.
Teman muda, sutradara dan reporter yang baik luruh, menyatu, dan menyelami sesamanya .. Selamat membangun pondasi. Semoga kokoh sampai puncak!